Thea News
Hot News // 2026 Rima R Noviana

Ancaman Nyata Karhutla:
Populasi Bekantan di Kalimantan Semakin Kritis dan Terancam Punah

Populasi bekantan di Kalimantan menyusut drastis akibat karhutla. Simak ulasan lengkap mengenai ancaman kepunahan satwa endemik langka ini dan upaya pelestariannya.

Kelangsungan hidup salah satu primata paling ikonis di Indonesia, yakni bekantan (Nasalis larvatus), kini tengah berada di ujung tanduk. Satwa endemik yang dikenal dengan ciri khas hidung panjang berukuran besar ini menghadapi tekanan ekologis yang luar biasa berat dalam beberapa tahun terakhir. Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang kali melanda wilayah Pulau Kalimantan telah menjadi momok menakutkan yang merenggut jutaan hektare ruang hidup mereka. Akibat musibah tersebut, jumlah populasi bekantan mengalami penurunan yang sangat drastis, menyisakan kekhawatiran mendalam di kalangan pemerhati lingkungan, peneliti, serta lembaga konservasi satwa liar baik di tingkat nasional maupun internasional.  

 

​Kebakaran hutan yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang bukan sekadar menghanguskan pepohonan dan vegetasi hijau, melainkan memusnahkan seluruh ekosistem penopang kehidupan fauna di dalamnya. Bekantan, yang secara alami sangat bergantung pada keberadaan hutan rawa gambut, hutan bakau (mangrove), serta kawasan riparian di sepanjang aliran sungai, kehilangan rumah tempat mereka mencari makan, berkembang biak, dan berlindung secara permanen. Ketika api melahap kawasan pesisir dan pedalaman hutan Kalimantan, primata arboreal ini tidak memiliki banyak pilihan. Pergerakan mereka yang lambat di atas tanah membuat satwa tersebut sering kali terjebak di tengah kobaran api atau kepulan asap pekat yang meracuni sistem pernapasan mereka.

 

Source: threads/tuti_lovi

 

​Dampak langsung dari karhutla ini adalah kematian massal akibat luka bakar serta keracunan gas karbon. Namun, ancaman bagi bekantan tidak berhenti seketika setelah api berhasil dipadamkan. Hilangnya sumber pakan utama, seperti pucuk daun, buah-buahan hutan, dan biji-bijian yang biasa mereka konsumsi, menciptakan krisis kelaparan yang masif bagi individu yang berhasil selamat. Kondisi ini memaksa kelompok-kelompok bekantan keluar dari habitat alami mereka dan terisolasi di kantong-kantong hutan yang semakin menyempit. Tidak jarang, mereka terpaksa mendekati permukiman warga atau lahan perkebunan demi mencari makanan, yang kemudian memicu konflik baru antara manusia dan satwa liar, mulai dari perburuan liar hingga kematian akibat kecelakaan di jalan raya atau tertangkap warga.

 

​Menelusuri jejak keberadaannya, bekantan merupakan salah satu keanekaragaman hayati paling istimewa di planet ini karena statusnya yang sangat eksklusif. Satwa berambut cokelat kemerahan ini tercatat sebagai spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Kalimantan. Artinya, primata ini tidak menghuni wilayah daratan lain di bumi secara alami, menjadikan pulau terbesar di Indonesia tersebut sebagai satu-satunya rumah bagi mereka. Dari belantara hutan hujan tropis hingga kawasan pesisir yang berlumpur, bekantan telah beradaptasi secara spesifik dengan iklim dan bentang alam Borneo selama ribuan tahun. Ketergantungan mutlak pada wilayah geografis yang terbatas ini membuat kerentanan mereka berada di tingkat yang paling tinggi; jika hutan Kalimantan musnah, maka kepunahan total akan langsung menghapus eksistensi spesies ini dari muka bumi.  

 

​Sebagai satwa khas Kalimantan, bekantan memiliki sejumlah karakteristik biologis dan perilaku yang unik sekaligus membedakannya dari jenis kera atau monyet lainnya. Ciri fisik yang paling mencolok tentu saja terletak pada bagian hidungnya. Pada individu jantan dewasa, hidung mereka tumbuh membesar, memanjang, dan menggantung di atas mulut, sebuah atribut fisik yang berfungsi untuk menarik perhatian betina serta memperkuat volume suara panggilan mereka saat berkomunikasi di tengah lebatnya hutan. Sementara itu, bekantan betina memiliki bentuk hidung yang jauh lebih kecil dan lancip. Selain bentuk wajahnya yang khas, primata ini juga dibekali selaput renang di antara jari-jari kakinya, menjadikan mereka sebagai salah satu perenang handal yang sanggup mengarungi sungai berarus deras atau bahkan menyelam di dalam air untuk menghindari pemangsa atau mencari sekelompok vegetasi air.

 

​Keberadaan bekantan memegang peranan ekologis yang sangat vital bagi keseimbangan hutan di Pulau Kalimantan. Sebagai pemakan daun dan buah (folifora dan frugivora), mereka bertindak sebagai agen penyebar biji alami yang membantu regenerasi flora hutan secara berkesinambungan. Aktivitas harian mereka di kanopi pohon turut menjaga kesehatan struktur vegetasi hutan rawa dan mangrove. Sayangnya, peran penting ini belum sepenuhnya sejalan dengan perlindungan ruang hidup mereka. Alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan monokultur skala besar, aktivitas pertambangan, ditambah dengan bencana karhutla yang destruktif, terus menggerus luas habitat asli mereka secara sistematis dari tahun ke tahun.

 

Menyikapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, berbagai upaya mitigasi dan penyelamatan darurat harus segera digalakkan secara terpadu. 

 

Pemerintah pusat bersama instansi daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang konservasi, serta masyarakat lokal kini dihadapkan pada tanggung jawab besar untuk menyelamatkan sisa populasi bekantan yang ada. Langkah-langkah strategis seperti penguatan patroli pencegahan kebakaran hutan di titik-titik rawan, restorasi lahan gambut dan penanaman kembali pohon mangrove, serta pembentukan koridor satwa liar mutlak untuk segera direalisasikan. Koridor ini sangat penting agar kelompok bekantan yang terisolasi di berbagai kantong hutan dapat saling terhubung kembali, sehingga pertukaran genetik antarpopulasi bisa tetap terjaga dan mencegah terjadinya kepunahan inbreeding.

 

​Di samping perlindungan habitat fisik, penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran hutan dan perdagangan ilegal satwa dilindungi harus diterapkan tanpa kompromi. Bekantan sendiri telah masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan status terancam punah (Endangered) serta dilindungi dalam Appendix I CITES, yang melarang segala bentuk perdagangan internasional terhadap satwa tersebut. Di Indonesia, payung hukum perlindungan satwa ini telah diatur secara ketat melalui undang-undang, namun implementasi di lapangan masih memerlukan pengawasan yang jauh lebih ketat dan konsisten dari aparat penegak hukum.  

 

​Kesadaran kolektif dari masyarakat luas, khususnya mereka yang tinggal di sekitar kawasan habitat bekantan, juga menjadi kunci penentu masa depan satwa berhidung besar ini. Program edukasi dan penyuluhan mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hutan harus terus digalakkan hingga ke tingkat akar rumput. Ekowisata berbasis konservasi yang melibatkan masyarakat lokal dapat menjadi salah satu solusi alternatif, di mana keberadaan bekantan dijaga kelangsungsannya sekaligus memberikan nilai ekonomis bagi warga sekitar tanpa merusak alam.

 

Source: Instagram/pickology

 

Kawasan konservasi di pulau Kalimantan memegang peranan yang sangat vital sebagai benteng pertahanan terakhir bagi kelangsungan hidup bekantan di alam liar. Pemerintah Indonesia bersama berbagai lembaga konservasi internasional dan lokal telah menetapkan sejumlah wilayah khusus yang dilindungi undang-undang untuk menjaga populasi kera berhidung panjang ini dari ancaman kepunahan. Wilayah-wilayah tersebut umumnya mencakup ekosistem hutan rawa gambut, kawasan mangrove pesisir, serta suaka margasatwa yang kaya akan sumber pakan alami bekantan.

Beberapa wilayah konservasi utama di Kalimantan yang menjadi rumah perlindungan bagi bekantan meliputi:

 

Taman Nasional Kutai (Kalimantan Timur): Kawasan ini memiliki habitat hutan dataran rendah dan mangrove yang menjadi salah satu habitat penting bagi populasi bekantan, meskipun wilayahnya sempat mengalami tekanan berat akibat kebakaran hutan masa lalu.

 

Taman Nasional Tanjung Puting (Kalimantan Tengah): Terkenal sebagai pusat rehabilitasi orangutan, taman nasional dengan ekosistem rawa air tawar dan mangrove ini juga dihuni oleh populasi bekantan yang cukup besar dan terpantau stabil di sepanjang aliran sungainya.

 

Cagar Alam Pulau Rimba dan Suaka Margasatwa Pleihari Takisung (Kalimantan Selatan): Kawasan pesisir ini secara khusus melindungi habitat pesisir dan mangrove tempat bekantan mencari makan dan berlindung dari gangguan manusia.

 

Taman Nasional Danau Sentarum dan Betung Kerihun (Kalimantan Barat): Mewakili ekosistem hutan rawa air tawar pedalaman yang unik, di mana kelompok-kelompok bekantan dapat ditemukan beradaptasi dengan fluktuasi air sungai musiman.

 

Stasiun Riset Cabang Panti di Taman Nasional Gunung Palung (Kalimantan Barat): Selain menjadi pusat penelitian primata, kawasan ini turut memantau dinamika populasi bekantan dan satwa liar endemik lainnya.

 

Melalui pengelolaan kawasan konservasi yang terintegrasi, pemantauan populasi berkala, serta penjagaan ketat terhadap aktivitas perambahan dan pembakaran lahan, wilayah-wilayah perlindungan ini diharapkan mampu menjaga kelestarian bekantan agar tetap dapat bertahan di habitat aslinya.

 

​Pada akhirnya, nasib bekantan di tanah Kalimantan berada di persimpangan jalan yang menentukan. Bencana karhutla yang mereduksi populasi mereka secara drastis harus dijadikan sebagai alarm keras bahwa kerusakan lingkungan di Borneo sudah mencapai titik nadir yang membahayakan. Apabila tidak ada tindakan nyata, cepat, dan komprehensif dari seluruh elemen bangsa untuk merestorasi hutan serta melindungi ruang hidup mereka, bukan tidak mungkin lambang kebanggaan fauna regional ini lambat laun hanya akan tinggal nama, menyisakan penyesalan mendalam bagi generasi masa depan akibat kegagalan kita dalam menjaga warisan alam nusantara yang paling berharga.

Share Intelligence

Related Intelligence

Next Entry

Olivia Rodrigo Sukses Gelar Festival Daisy Chain Fields dan Kumpulkan Donasi Rp155 Miliar untuk Pemberdayaan Perempuan

Next Entry

Sturgeon Moon: Menyingkap Keindahan dan Sejarah Bulan Purnama Agustus

Next Entry

Mengenang Yayoi Kusama: Perjalanan Hidup, Jejak Estetika, dan Warisan Abadi sang Ratu Titik Polka