Naik Terus! Rupiah Tembus di Angka 18.000 per USD, Waspada Inflasi Berkepanjangan!
Pada hari Kamis, 4 Juni 2026 nilai rupiah tembus di angka 18.033 per USD. Dengan terus naiknya nilai rupiah, tentu mempengaruhi banyak pihak tidak hanya rakyat Indonesia, namun para investor asing juga terkena dampaknya.
Baru-baru ini rakyat Indonesia digemparkan dengan harga rupiah yang terus menerus anjlok bertahap. Bukan hanya resah dan gelisah rakyat Indonesia sudah ditahap “hopeless” karena belum menemukan titik terang hingga kini. Pada hari Kamis, 4 Juni 2026 nilai rupiah tembus di angka 18.033 per USD. Dengan terus naiknya nilai rupiah, tentu mempengaruhi banyak pihak tidak hanya rakyat Indonesia, namun para investor asing juga terkena dampaknya.
Sebelumnya pada hari Rabu, 3 Juni 2026 rupiah mencapai angka 17.960 tentunya nilai tersebut naik berturut-turut. Nilai rupiah ini juga naik terus selama beberapa bulan kebelakang dan tentunya menyebabkan IHSG terdampak dan juga anjlok. Analisis mengatakan bahwa koreksi yang terjadi pada IHSG disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap AS. IHSG hari ini turun lebih dari 4 persen di tengah seluruh sektor saham tertekan. IHSG melemah 4,34% ke level 5.924, sedangkan indeks saham LQ45 melemah 4,13% menjadi 593.
Sementara itu, biaya impor minyak dan gas yang meningkat mengikis surplus perdagangan pada bulan April, sementara cadangan devisa turun ke level terendah hampir dua tahun pada bulan April, karena Bank Indonesia meningkatkan intervensi. Penarikan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap penyangga eksternal dan risiko kredit setelah revisi prospek oleh Fitch dan Moody's awal tahun ini. Rupiah telah kehilangan sekitar 7,2% terhadap dolar sejak awal tahun, menempatkannya di antara mata uang pasar berkembang yang paling lemah.
Pergerakan Rupiah Selama 4 Bulan Ini
Sebelum rupiah mengalami pelemahan bertahap atau bisa juga disebut depresiasi rupiah memang sudah melemah dari pemerintahan sebelumnya. Hal ini bisa disebut serangkaian koreksi pasar yang terjadi akibat akumulasi sentimen. Berikut ini pergerakan rupiah yang terekam selama bulan Maret 2026 hingga awal bulan Juni 2026.
Maret 2026 - Fluktuasi Stabil, meski pada pemerintahan Prabowo dan Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden rupiah terus melemah, di bulan Maret ini fluktuasinya terbilang cukup stabil. Pasalnya pasar masih merespon kebijakan moneter skala global dan stabilitas harga awal tahun.
Kemudian memasuki bulan April 2026 tekanan dari berbagai sudut mulai terasa bahkan banyak yang cukup terdampak karenanya. Mulai muncul kekhawatiran terhadap data neraca perdagangan dan ketegangan geopolitik, orang-orang akan mulai safe-haven buying pada dolar AS.
Setelah bulan April, Pada bulan Mei 2026 akhirnya nilai rupiah mengalami pelemahan yang significant dimana pelemahan ini terjun semakin dalam akibat sentimen global yang lebih kuat dan juga penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga.
Secara klongklusi, nilai tukar rupiah mengalami tren pelemahan atau depresiasi yaitu kecenderungan merangkak naik dari 16.000 rupiah kemudian 17.000 rupiah hingga kini 18.000 rupiah.
Kelas Menengah Sangat Terdampak
Ketika rupiah terus anjlok dan turun, keresahan yang paling utama akan datang dari kelas menengah. Khususnya para pekerja urban yang tergantung hanya pada pendapatan bulanan. Pasalnya mereka hanya memiliki salary yang ada tiap bulan, tanpa memiliki backup aset yang menunjang kebutuhannya.
Saat ini Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25% untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga inflasi. Namun dampaknya tetap pada rakyat yaitu suku bunga yang naik otomatis cicilan KPR, kredit kendaraan, dan pinjaman lainnya akan menjadi tinggi.
Hal tersebut berarti ditengah harga kebutuhan yang naik, pengeluaran kelas menengah juga ikut membengkak. Meski kelas menengah terlihat aman secara finansial namun faktanya tidak seperti itu. Kerap kelas menengah dianggap terlalu kaya untuk menerima bantuan atau subsidi lainnya, nyatanya kelas menengah sedang dalam survival mode menjalaninya.
Dalam data Badan Pusat Statistik, kelas menengah yang ada di Indonesia terus menyusut dari tahun-ke tahun, tentunya tidak luput dengan tahun 2026 ini. Pada 2020 kelas menengah berada di angka 53,83 kemudian menurun di 2021 menjadi 49,51 kemudian di tahun 2023 dan 2024 menjadi 48,27 dan juga 47,85. Kelas menengah dan calon kelas menengah di Indonesia ini mencakup dua pertiganya penduduk Indonesia dan menjadi penyumbang terbesar konsumsi nasional.
Naiknya rupiah seringkali dianggap hanya angka semata, tetapi hal tersebut jauh dari kata angka saja. Dampaknya cukup besar bahkan bisa sangat besar karena merambat ke harga barang, biaya hidup masyarakat, lapangan kerja dan daya beli masyarakat yang terus berkurang.
Tips Menjaga Keuangan Saat Ini
Untuk Anda yang sedang mengalami survival mode dan terdampak dari anjloknya rupiah, berikut adalah tips untuk menjaga keuangan pribadi Anda.
Prioritaskan Pengeluaran Esensial. Cara untuk memprioritaskan nya adalah dengan fokus dengan kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda. Audit kembali anggaran bulanan yang Anda miliki, diskusikan dengan pasangan atau keluarga. Kemudian pisahkan antara kebutuhan (makanan, transport dan tagihan) dengan keinginan (hiburan dan berlangganan sesuatu yang jarang dipakai). Untuk barang dan kebutuhan sehari-hari yang pasti terpakai, sebaiknya membeli dalam jumlah yang besar dan discount untuk menyiasati kenaikan harga di kemudian hari.
Diversifikasi Pendapatan. Dengan memiliki dana cadangan dan dana darurat akan berguna dalam jangka pendek. Usahakan untuk menyimpannya dalam instrumen liquid atau yang mudah dicairkan.
Kelola Risiko Transportasi. Untuk Anda yang sering pulang pergi antar kota rencanakan perjalanan dari jauh-jauh hari. Carilah tiket perjalanan yang discount agar lebih menghemat pengeluaran. Untuk Anda yang stay di dalam kota, optimalisasi mobilitas lokal dengan batching atau menggabungkan beberapa urusan dalam satu kali jalan untuk anggaran transport yang lebih efisien.
Diskusikan Keuangan. Anda yang memiliki keluarga wajib untuk mendiskusikan keuangan dengan pasangan atau orangtua. Luangkanlah waktu secara berkala seperti setiap awal maupun akhir bulan untuk membahas target pengeluaran dan simpanan keluarga.
Hilangnya Jangkar Stabilitas
Dilansir dari kompas.com Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter dan Perbankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Rahma Gafmi mencatat, pergerakan rupiah di kisaran Rp 17.700-Rp 17.800 per dolar AS telah menciptakan kecemasan akan hilangnya jangkar stabilitas.
”Pelemahan ini bukan sekadar masalah angka, melainkan sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang berada dalam himpitan ganda, yaitu tekanan moneter global yang tak kunjung reda dan tantangan struktural domestik, yaitu energi dan fiskal yang mulai diuji oleh pasar,” ujarnya