4 Tujuan Mengapa Sesorang Menerapkan Frugal Living
Frugal living, sering dianggap sesuatu yang mengerikan oleh khalayak. Padahal, gaya hidup ini punya prinsip dan tujuan tersendiri untuk meredam perilaku konsumtif.
Kamu mungkin sering mendengar istilah frugal living berkembang di tengah kehidupan anak muda saat ini. Walaupun demikian, frugal living tetap diterapkan oleh banyak kalangan, bukan hanya gen z atau milenial saja. Mengutip dari laman resmi Prudential, di sana dijelaskan frugal living adalah gaya hidup yang menekankan pada pengalolaan keuangan secara bijak dan hemat. Melalui frugal living, seseorang harus pandai mengatur pengeluaran sehari-harinya dengan tidak membeli barang secara konsumtif atau berebihan. Hanya saja, semakin berkembangnya waktu, pengertian frugal living jadi bergeser. Frugal living dianggap sebuah konsep hidup dimana semua harus serba terbatas. Bias antara hemat dan pelit jadi hilang. Hemat bukan berarti enggan mengeluarkan biaya untuk sesuatu yang penting, tapi jika sudah pelit, maka orang tidak akan mau hartanya keluar sedikitpun, bahkan untuk sesuatu yang penting.
Konsep frugal living sudah tumbuh sejak lama, antara tahun 1929-1939 di Amerika Serikat. Kala itu terdapat masa yang disebut the Great Depression. Masa tersebut bisa dibilang waktu yang kelam bagi warga negara Amerika. Situasi ini terjadi akibat jatuhnya nilai saham pada Wall Street dan keberadaan kebijakan moneter serta perdagangan menjadi pemicu utama tumbuhnya masalah ekonomi terparah di abad ke-20. Akibatnya, Amerika Serikat mengalami deflasi, penurunan produktivitas, kebangkrutan bank, dan tingginya pengangguran. Kondisi itu sangat menyulitkan masyarakay, sehingga mereka harus melakukan penghematan demi bisa bertahan hidup. Dari sana, orang mulai menerapkan sistem frugal living, bentuk dari menghargai nilai uang di masa sulit. Mereka tidak hanya menghemat uang, tapi turut mengurangi penggunaan plastik, memakai produk lokal, hingga mendaur ulang benda-benda yang masih bisa digunkan. Konsep tersebut akhirnya menyebar luas, terlebih ketika komunitas online telah tersbentuk. Namun, tujuan dari frugal living sebenarnya bukan hanya tentang berhemat, tapi lebih dalam nan spesifik.
Kamu bisa juga melakukannya dengan memegang goal yang jelas seperti di bawah ini.
Menerapkan Hidup Hemat, Bukan Pelit
Tujuan utama yang harus kamu pegang sebelum melakukan frugal living adalah hemat, bukan pelit. Kamu harus membedakan mana itu meminimalisir pengeluaran dengan mengutamakan keperluan penting dan tidak mau mengeluarkan uang untuk segala hal. Hemat memang terbatas, tapi tetap bernalar. Hemat artinya mengurangi pengeluaran untuk segala hal yang tidak terlalu penting. Kamu bisa berhenti atau mengurangi membeli benda-benda yang tidak perlu. Jangan terlalu tergiur dengan hal-hal yang sebenarnya minim fungsi. Pusatkan keuangan pada benda-benda yang memang benar dibutuhkan. Selain mampu menahan uang lebih lama, mengurangi pembelian barang tidak penting, dapat mengurangi sampah, menyisakan space lebih banyak, dan yang pasti turut mejaga kebersihan lingkungan. Sisa uang hasil berhemat nantinya bisa kamu paka untuk keperluan investasi atau tabungan jangka panjang. Kamu tidak perlu pelit pada diri sendiri, karena jika itu yang diterapkan maka penderitaan bisa jadi muncul secara perlahan.
Pertajam pada Kebutuhan Utama
Keperluan hidup setiap orang berbeda-beda yang membutuhkan uang secara berkala. Orang biasanya akan mencatata kebutuhan mereka guna mengetahui apa saja yang harus dibeli menggunakan uang. Jadi, saat sejumlah uang telah diterima langsung bisa dibagi pada setiap hal yang telah dicantumkan sebelumnya. Kamu perlu tahu, bahwa mencatat keperluan bulanan dapat membantu seseorang lebih fokus dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Uang yang keluar terarah pada hal-hal yang memang diperlukan, tidak terbuang ke pembelian konsumtif lainnya. Kejadian paling umum saat seseorang berbelanja tanpa catatan, mereka akan cenderung membeli sesuatu sesuka hati. Pada mulanya, kelihatan tidak masalah karena uang segar baru mengucur. Tampak tidak terjadi hal buruk saat sampai di kasir, semua bisa terbayar. Namun, jumlah uang yang terpotong dalam jumlah besar di awal bulan, padahal perjalanan harus ditempuh selama sebulan. Maka dari itu, dalam konsep frugal living ini, kamu dituntut fokus pada kebutuhan pokok yang benar-benar penting, berhenti bersikap boros dengan membeli hal-hal yang kurang bermanfaat. Lebih baik, uangnya disimpan sebagai tabungan atau investasi yang mampu menghasilman passive income. Nampaknya kegitan tersebut jauh lebih bermanfaat.
Mencegah dan Mengurangi Jumlah Hutang
Fenomena mengerikan saat ini yang dianut oleh sebagian besar masyarakat dunia. Gaya hidup glamor, hedon, bergelimang harta menjadi suatu trend yang harus diikuti. Seolah, jika tidak menggunakan gaya tersebut, seseorang akan dicap ketinggalan zaman dan dijauhi dari lingkup pertemanan. Apalagi adanya sosial media yang begitu gencar memudahkan manusia memamerkan apa yang dimilikinya, menumbuhkan bibit-bibit iri dari pihak lain. Kadang, targetnya suka meleset. Demi mengikuti gaya hidup yang sama, orang rela merogoh kocek lebih untuk membeli benda-benda yang menunjangnya. Jika uang yang dimilikinya kurang, dengan sadar mereka bisa saja mengajukan pinjaman. Saat ini berhutang bahkan bisa dilakukan secara cepat melalui aplikasi online, meskipun sangat rentan dan berbahaya. Akhirnya, hutang menumpuk dan jatah bulanan hanya habis dipakai mencicil hutang. Tentu saat itu terjadi, orang harus pikir otak, bagaimana cara tetap bertahan hidup ditengah himpitan jatuh tempo. Solusinya memang hidup frugal living, atau berhemat dan mengurangi tindakan konsumtif yang merugikan. Namun, sebelum itu terjadi, sebaiknya memang jauhi gaya hidup berlebihan. Kamu bisa memilih gayamu sendiri tanpa ikut-ikutan orang lain. Kamu tetap bisa melaksanakan frugal living, memfokuskan diri pada kebutuhan pokok, tanpa harus merasa iri melihat orang lain punya ini dan itu. Canangkan dalam benak, mengapa kamu memilih membeli sebuah benda, apa manfaatnya, berapa harganya, dan seberapa pentingkah benda itu dimiliki. Jangan sampai benda yang sudah dibeli menggunakan uang jadi sampah, tidak terpakai. Frugal living memang bisa jadi jalan dalam rangka melunasi hutang, tapi lebih baik dapat mencegah terjadinya hal tersebut.
Menambah Nilai Tabungan dan Investasi
Hidup serba hemat, membeli barang-barang yang diperlukan saja, merupakan langkah bijak dalam mengatur keuangan. Aliran dana yang masuk jauh lebih terjaga, tidak ada yang terbuang sia-sia. Minimalisir pembelian barang pun mampu mengurangi limbah di lingkungan. Hidup frugal living dengan prinsip yang lebih ketat, memang mampu mempersempit ruang gerak uang mau dibawa kemana karena sudah fokus pada hal-hal krusial saja. Lalu, ketika uang yang dimiliki sisa, dapat dimasukkan ke dalam tabungan. Kamu berhak membuat tabungan dengan tujuan tertentu, misalnya tabungan pendidikan, pernikahan, rumah, dan sebagainya. Atau jika sudah yakin terhadap produk investasi, tidak ada salahnya mulai memasukkan modal ke sana. Kamu bisa memilih jenis investasi sesuai karakter. Uang sisa itu pada akhirnya memberikan manfaat yang lebih jelas di kemudian hari.
Itulah beberapa tujuan mengapa seseorang menerapkan frugal living. Konsep hidup seperti ini memang terlihat berat, sebab semua tampak serba terbatas. Padahal, keterbatasan itu terjadi karena pemfokuskan penggunaan uang untuk berbagai kebutuhan penting. Frugal living bukan pelit, hanya berhemat, berhenti bertindak boros, tidak terbawa arus gaya hidup hedon yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Featured image: pexels.com/Katie Harp